Keberagaman Suku dan Agama di Musi Rawas Sebagai Cerminan “Indonesia kecil”

MUSI RAWAS162 Dilihat

Berita Silampari 

MUSI RAWAS- Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Musi Rawas (Mura) menggelar rapat rutin di Desa F Trikoyo, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, Rabu 29 Oktober 2025.

Rapat tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati (Wabup) H Suprayitno, Plt Asisten Pemerintahan dan Kesra Agus Susanto, Kabag Kesra, Kesbangpol, Pengurus FKUB Mura, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Wakil Ketua FKUB Kabupaten Mura, Kyai Misbahul Arifin, mengatakan bahwa rapat rutin ini digelar sebagai bentuk evaluasi terhadap pelaksanaan program dan kegiatan FKUB selama tahun berjalan.

“Ini adalah rapat rutin untuk mengkaji ulang kegiatan FKUB. Selama ini FKUB belum mendapatkan dana hibah yang layak, sehingga kegiatan tidak seluas dulu. Maka dari itu kami berharap agar tahun 2026 mendatang ada dana hibah yang wajar untuk menunjang kegiatan keumatan,”kata Misbahul.

Dikatakannya, meskipun dengan keterbatasan anggaran, FKUB Mura tetap berperan aktif dalam menjaga stabilitas sosial dan menyelesaikan berbagai gejala konflik antar umat beragama di daerah.

“Setiap ada potensi konflik, kami selalu berupaya menanganinya dengan pendekatan dialog dan kerukunan. Namun ke depan, kami ingin kembali menghidupkan program pemberdayaan Desa Kerukunan yang dulu pernah berjalan,”paparnya.

Menurutnya, di Mura sudah terdapat lima desa kerukunan yang menjadi contoh keharmonisan antar umat beragama, di antaranya Desa Tugu Sempurna, Bangun Rejo, Mataram, dan Megang Sakti 5. Desa-desa tersebut memiliki keberagaman tinggi, dengan masyarakat yang menganut tiga hingga empat agama berbeda namun tetap hidup rukun.

“Rencananya tahun 2026, jika dana hibah sudah tersedia, kami akan kembali melakukan pembentukan dan pemberdayaan desa kerukunan seperti sebelumnya,”terangnya.

Kemudian, sebagai informasi FKUB Kabupaten Mura pernah meraih penghargaan sebagai FKUB terbaik di Provinsi Sumatera Selatan karena berhasil menjaga kerukunan dan meminimalkan potensi konflik sosial di wilayahnya.

Terlepas dari itu, keberagaman suku dan agama yang ada di Mura disebut sebagai cerminan “Indonesia kecil”. Dimana perbedaan justru menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan dan menjaga keharmonisan antar warga. (Kris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *