Berita Silampari
MUSI RAWAS- Setelah cukup lama dilanda kemarau, sebagian besar wilayah Bumi Lan Serasan Sekentenan akhirnya kembali diguyur hujan tiga hari terakhir.
Hujan yang turun dengan intensitas cukup lebat tersebut membawa dampak terhadap kondisi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Musi Rawas (Mura).
Jumlah titik panas atau hotspot yang sebelumnya masih terpantau kini mengalami penurunan secara drastis. Bahkan, pada Rabu 23 September 2026, tidak ditemukan satu pun titik hotspot di wilayah Kabupaten Mura.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mura, H A Darsan, mengatakan kondisi tersebut tidak terlepas dari hujan yang mulai turun dalam beberapa hari terakhir.
“Alhamdulillah, tiga hari terakhir ini hujan sudah mulai turun untuk sebagian wilayah di Mura,”kata Darsan.
Ia menjelaskan, meskipun hujan belum turun secara merata di seluruh wilayah, hampir seluruh Kecamatan di Mura telah mendapatkan hujan. Bahkan, di sejumlah wilayah hujan yang turun cukup deras dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama.
“Hujannya lumayan lebat, terus lama. Meskipun tidak selalu merata di seluruh wilayah di Mura, namun sepertinya di 14 Kecamatan sudah turun hujan,”ungkapnya.
Menurut mantan Kasi Pemerintahan (Kasipem) Tuah Negeri ini, kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap lahan yang sebelumnya sangat kering dan rawan terbakar, khususnya lahan gambut dan semak belukar.
Hujan yang mengguyur selama tiga hari terakhir membuat lahan menjadi lebih basah sehingga potensi munculnya titik panas ikut berkurang. Dampaknya terlihat dari data hotspot yang menunjukkan penurunan cukup signifikan.
“Berdasarkan data dari BPBD Sumsel, untuk hari ini tidak ada hotspot yang terpantau di Mura. Kalau kemarin ada 9 titik,” jelasnya.
Meski jumlah hotspot telah turun hingga nihil, kondisi kualitas udara di Kabupaten Musi Rawas ternyata masih belum sepenuhnya membaik. Darsan menyebutkan, berdasarkan indikator Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), kualitas udara di Mura masih berada pada kategori tidak sehat.
“Kalau untuk kualitas udara, udara kita masih kategori tidak sehat dengan nilai ISPU 113,” tambahnya.
Karena itu, BPBD Mura tetap melakukan kesiapsiagaan selama 24 jam. Turunnya hujan dan nihilnya hotspot hari ini tidak membuat petugas mengendurkan kewaspadaan terhadap potensi Karhutla.
Masyarakat juga kembali diingatkan untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Selain itu, warga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan yang dapat menjadi pemicu kebakaran.
“Meski hujan sudah turun 3 hari terakhir ini, imbauan agar tidak membuka lahan dengan dibakar dan membuang puntung rokok sembarangan tetap kami sampaikan kepada masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, hujan yang mulai mengguyur Mura disambut baik oleh masyarakat. Salah satunya Santoso warga Tuah Negeri.
Ia mengaku bersyukur karena wilayah tempat tinggalnya kembali mendapatkan hujan dengan intensitas cukup lebat selama dua hari terakhir.
“Alhamdulillah dua hari ini hujan terus, hujan turun pada Senin dan Selasa malam, bahkan hari ini sampai pagi dan semalam. Hujannya juga cukup lebat,” ungkapnya.
Menurutnya, turunnya hujan tidak hanya membuat kondisi lingkungan menjadi lebih segar, tetapi juga sangat membantu tanaman yang sebelumnya terdampak kemarau panjang.
Santoso berharap hujan terus turun sehingga persoalan Karhutla yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Mura dapat segera berakhir.
“Kemarau panjang ini cukup membuat warga kesusahan, air sumur kering, tanaman karet tak keluar getahnya, kemudian kebakaran terjadi di mana-mana. Semoga ke depannya turun hujan lagi,”harapannya. (Kris)






