Berita Silampari
MUSI RAWAS- Dinas Kabupaten Musi Rawas (Mura) mencatat sepanjang empat bulan tahun ini setidaknya ada 192 warga di Bumi Lan Serasan Sekentenan mengidap penyakit TBC. Dimana, dari jumlah tersebut tersebar di Kecamatan Selangit.
Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Mura, H Suprayitno mengatakan, penularan AIDS, Tuberkulosis dan Malaria masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia. Dimana, untuk di Mura tahun 2025 tercatat sebanyak 675 kasus tuberkulosis dan 26 kasus HIV yang tersebar di beberapa Kecamatan. Sementara untuk malaria, Kabupaten Mura telah menerima sertifikat eliminasi malaria dari Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2022.
Dikatakannya, sesuai target RPJMN pemerintah menargetkan eliminasi TBC dan penghentian penularan AIDS pada tahun 2030 melalui kampanye three zero, yakni tidak ada infeksi baru, tidak ada kematian akibat AIDS dan tidak ada diskriminasi terhadap ODHA.
“Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan dukungan seluruh OPD, badan, lembaga, pemerintah desa, masyarakat hingga sektor swasta agar percepatan eliminasi ATM di Mura dapat terwujud,”tegasnya.
Upaya lainnya yang dilakukan Pemkab Mura dengan menggelar Dialog Dukungan dan Pelaksanaan Percepatan Penuntasan AIDS, Tuberkulosis dan Malaria (ATM) di Auditorium Pemkab Musi Rawas, Selasa 19 Mei 2026.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Rawas drg Maya Kesuma Surya Putri melalui Kabid P2P Renaldi Oktavianus didampingi Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Iwan Joko Susilo, kasus TBC di Mura masih menjadi perhatian serius.
Ia menjelaskan, pada tahun 2025 tercatat sebanyak 675 kasus TBC. Sedangkan 2026, Januari hingga April jumlah kasus TB sudah mencapai 192 kasus.
“TB ini tidak bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Permasalahannya cukup kompleks mulai dari pengobatan jangka panjang hingga penyebaran yang aktif. Karena itu semua sektor harus bergerak bersama,”jelas Renaldi.
Menurutnya, kegiatan dialog tersebut bertujuan meningkatkan sinergitas antara OPD, pemerintah desa, Baznas dan berbagai lembaga lainnya dalam upaya pencegahan dan pengendalian ATM.
Ia juga menegaskan fokus utama saat ini adalah menggerakkan seluruh perangkat pemerintah desa untuk terlibat langsung, salah satunya melalui pembentukan kader TB di setiap desa.
Selain itu, kader TB juga berperan memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan memastikan pasien menjalani pengobatan secara rutin hingga tuntas.
Renaldi menambahkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan terdapat lima kecamatan dengan angka kasus TB tertinggi dan sekitar 10 desa maupun kelurahan dengan kasus terbanyak. Salah satu wilayah dengan kasus cukup tinggi berada di Kecamatan Selangit. (Kris)






