Berita Silampari
MUSI RAWAS- Fenomena El Nino yang dijuluki “Godzilla” tengah menjadi perhatian serius, karena diprediksi membawa dampak besar bagi Indonesia.
Meski namanya terdengar seperti tokoh film, istilah ini merujuk pada kondisi El Nino dengan intensitas sangat kuat yang berpotensi memicu cuaca ekstrem, terutama kemarau panjang.
Para ahli menyebutkan, fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, namun kekuatannya jauh lebih besar dibandingkan El Nino pada umumnya. Dampaknya pun tidak bisa dianggap remeh, mulai dari kekeringan berkepanjangan, krisis air bersih, penurunan hasil pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bahkan, kondisi ini juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan dan meningkatkan emisi karbon dioksida secara global.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Musi Rawas (Mura) mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau tahun ini. Berbagai langkah strategis telah dilakukan, mulai dari menyiapkan peralatan hingga menyiagakan personel.
Kepala Pelaksana (Kakak) BPBD Kabupaten Mura, H. A. Darsan, mengatakan pihaknya telah mempersiapkan sejumlah perlengkapan pemadaman karhutla, seperti dua unit mobil tangki air, mesin pompa, selang, nozzle, serta peralatan pendukung lainnya.
”Kami juga telah menyiagakan personel selama 1×24 jam yang siap diterjunkan kapan pun dibutuhkan,”ungkapnya.
Selain itu, untuk menjangkau wilayah yang sulit dilalui kendaraan roda empat, BPBD juga menyiapkan empat unit motor trail guna mempercepat mobilisasi personel di lapangan.
”Motor trail ini sangat membantu, terutama jika titik kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau,”jelasnya.
Menurut ia, berdasarkan pemetaan, ada 6 Kecamatan di Mura yang tergolong sangat rawan karhutla, yakni Kecamatan Muara Lakitan, BTS Ulu, Muara Kelingi, Megang Sakti Selangit, Terawas, dan rawan sedang Tuah Negeri, Jayaloka, Sukakarya, dan 6 Kecamatan lainnya masuk dalam kategori rawan ringan.
Hanya saja, ia menegaskan pentingnya peran serta masyarakat dalam mencegah karhutla, khususnya dengan tidak membuka lahan melalui cara dibakar. Ia mengingatkan dampak kebakaran tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan ekonomi masyarakat.
”Asap karhutla dapat menyebabkan penyakit ISPA, menurunkan kualitas udara, serta merusak tanaman dan ekosistem,”tegasnya.
Kemudian, BPBD Mura juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, pemerintah kecamatan, hingga perangkat desa dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Sosialisasi kepada masyarakat pun terus digencarkan agar kesadaran terhadap bahaya karhutla semakin meningkat.
Terlepas dari itu, dengan kesiapsiagaan yang matang dan sinergi lintas sektor, BPBD berharap Kabupaten Mura dapat terhindar dari bencana karhutla selama musim kemarau. Pemerintah pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan demi keselamatan dan kesejahteraan bersama. (Kris)






